Tag Archives: jawa timur

29 Daerah Jawa Timur Dilanda Kekeringan

27 Jul

Surabaya – Wilayah yang dilanda kekeringan akibat musim kemarau yang berkepanjangan di Jawa Timur terus meluas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, kekeringan sudah meliputi 29 daerah kabupaten dan kota, padahal beberapa pekan sebelumnya mencapai 21 daerah.

Kepala BPBD Jawa Timur, Siswanto, menjelaskan dari 38 daerah kabupaten dan kota di Jawa Timur tersisa sembilan daerah yang belum dilanda kekeringan. ”Tapi jumlah daerah yang dilanda kekeringan akan terus bertambah karena belum diketahui kapan berakhirnya musim kemarau,” katanya, Selasa 20 September 2011.

Hujan pernah terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur, tapi belum merata. Bahkan dalam sebulan terakhir tak sampai lima kali turun hujan di Jawa Timur.

Siswanto menjelaskan saat ini BPBD masih memfokuskan diri untuk membantu memberikan air bersih di 21 daerah kabupaten dan kota. Daerah-daerah tersebut sejak Agustus 2011 lalu telah dilanda kekeringan cukup parah.

Daerah-daerah yang cukup parah dilanda kekeringan di antaranya Trenggalek, Tulungagung, Malang, Blitar, Ponorogo, Madiun, Pacitan, Bojonegoro, Jombang, Nganjuk, Magetan, Ngawi, Situbondo, Lumajang, Batu, Bondowoso, Gresik, Lamongan, Tuban, Sumenep, dan Pamekasan.

Di 21 daerah tersebut kekeringan meliputi 417 desa yang tersebar di 136 kecamatan. Kepada warga di daerah tersebut BPBD telah mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tangki dengan biaya Rp 175 ribu per mobil tangki.

Selain bantuan air dengan mobil tangki, BPBD juga menyalurkan tandon air di seluruh desa yang dilanda kekeringan. Sumur juga digali untuk mempercepat pengadaan air bersih bagi warga.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jawa Timur, Ahmad Nurfalakhi, mengatakan 1.453 hektare lahan tanaman padi di seluruh Jawa Timur mengalami kekeringan. Sebanyak 239 hektare di antaranya mengalami puso.

Sementara itu kondisi geografis menyulitkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Pacitan mendistribusikan air bersih kepada warga di tiga kecamatan di daerah itu, yakni Kecamatan Bandar, Tegalombo, dan Sudimoro.

Direktur PDAM Kabupaten Pacitan, Rianto, menjelaskan wilayah yang warganya mengalami kesulitan mendapatkan air bersih terdiri dari perbukitan dan pegunungan.

Menghadapi kondisi geografis yang berat, PDAM Pacitan harus mengakali pola pendistribusian air bersih. “Dari instalasi pengolahan, air bersih yang dihasilkan dialirkan ke reservoar bawah, lalu ke reservoar atas. Kemudian dialirkan ke rumah warga secara gravitasi,” ujar Rianto.

Tugas PDAM juga kian berat karena belum seluruh desa di sembilan kecamatan lainnya di Pacitan yang sudah dialiri air bersih. Keterbatasan anggaran tidak memungkinkan PDAM memperluas jangkauan instalasi jaringannya.

Pemerintah Kabupaten Pacitan telah menyiapkan dana pendamping Rp 700 juta untuk perluasan jaringan. Namun dana tersebut baru akan dicairkan setelah ditetapkannya APBN tahun 2012. Padahal dengan perluasan jaringan, empat desa di Kecamatan Donorojo–Desa Sekar, Cemeng, Sendang, dan Desa Sukodono–yang selama ini selalu dilanda kekeringan bisa menikmati air bersih.

Tahun ini pun PDAM Pacitan mendapat dana Rp 10,9 miliar dari APBN. Namun bukan untuk perluasan jaringan, melainkan untuk peningkatan kapasitas produksi di jaringan utama. Sebab kapasitas produksi air PDAM masih jauh dari ideal, yakni hanya 205 liter per detik. Akibatnya dari jumlah penduduk sekitar 530 ribu jiwa hanya sekitar 11 ribu jiwa yang terjangkau air PDAM.

Kapasitas air ini hanya mampu terdistribusi ke pelanggan selama 12-18 jam. “Kami belum memiliki pompa cadangan, sehingga kalau dipaksakan beroperasi 24 jam bisa terjadi error. Karena tidak bisa 24 jam, terpaksa diterapkan block system atau pengaliran bergilir,” ujarnya.

Warga yang belum terjangkau jaringan air besih terpaksa menggali lubang di dasar telaga yang sudah mengering. “Meski air telaga mengering, masih ada sumber air yang memancar kalau digali,” tutur Tusiman, salah seorang warga di Dusun Suruh, Desa Cemeng, Kecamatan Donorojo. Warga pun harus berbagi air dengan ternak mereka.

 

Sumber TEMPO Posting By lsmlidik Copyriht @2012

Harga Kedelai Naik Tajam

25 Jul

Jakarta – Setiap tahun, produksi kedelai para petani di Jawa Timur rupanya terus menurun. Pada 2012 ini, produksi kedelai di Jawa Timur hanya 310 ribu ton, turun 56 ribu ton dibandingkan tahun lalu. “Padahal konsumsi kedelai kita terus naik,” kata asisten perekonomian pemerintah Jawa Timur, Hadi Prasetyo, Rabu, 25 Juli 2012.

Tahun ini saja, konsumsi kedelai masyarakat diperkirakan mencapai 420 ribu ton. “Trennya meningkat, padahal pasokan menurun,” kata Hadi. Tren penurunan produksi ini sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. “Penurunan sampai 25-50 ribu per tahun,” katanya.

Penurunan produksi disebabkan keengganan petani menanam komoditas ini. Selain margin keuntungannya kecil, kedelai mudah terserang penyakit. “Ada sembilan hama kedelai. Bandingkan dengan jagung yang hamanya hanya dua,” kata Hadi lagi. Terbukti, lahan kedelai di Jawa Timur terus menyusut. Tahun lalu masih 252 hektare, dan sekarang turun menjadi 218 hektare alias kehilangan 30 hektare lebih.

Selain soal penurunan produksi, Gubernur Jawa Timur Soekarwo menilai lonjakan kenaikan harga kedelai dan kelangkaannya di pasar dipicu oleh masalah di negeri importir kedelai. Setiap tahun, Indonesia membeli kedelai dari Amerika dan Cina.

“Tahun ini, Amerika kemarau panjang sehingga panen mereka hancur,” kata Sukarwo. Sementara Cina mengalami banjir bandang yang juga mempengaruhi produksi.

Politikus Demokrat ini mendesak pemerintah mencari solusi untuk kenaikan harga kedelai. Misalnya saja dengan subsidi, sehingga petani bergairah menanam kedelai.

 

Sumber TEMPO Posting By lsmlidik Copyriht @2012

Pencemaran Kali Surabaya

23 Jun

Surabaya – Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur Indra Wiragana mengatakan pihaknya akan membangun 74 instalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal di kawasan permukiman di sepanjang Kali Surabaya. Tahun ini mulai dibangun tujuh unit. “Anggarannya sangat besar, satu unit IPAL mencapai Rp 500 juta,” katanya, Senin, 18 Juni 2012.

Menurut Indra, biaya pembangunan IPAL diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur. Sedangkan pemerintah kota dan kabupaten yang mendapatkan bantuan IPAL akan diminta menyediakan anggaran perawatan.

Berdasarkan data Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jawa Timur, limbah domestik dari 6.170 rumah warga, yang berdiri di sepanjang bantaran Kali Surabaya, seharusnya ditampung oleh 74 IPAL. Selain itu, WC-WC terapung yang ada di Kali Surabaya juga harus diubah dengan mendirikan WC umum yang pembuangannya tidak langsung ke Kali Surabaya.

Indra menjelaskan bahwa limbah domestik menyumbang 60 persen pencemaran di Kali Surabaya, sedangkan sisanya, 40 persen, merupakan limbah perusahaan. “Selain membangun IPAL, kami juga mengusulkan untuk memperbanyak rusunawa (rumah susun sederhana sewa) yang bisa menampung warga yang bermukim di bantaran Kali Surabaya,” ujarnya.

Saat ini BLH juga gencar melakukan patroli air untuk mengingatkan perusahaan yang berpotensi membuang limbahnya ke Kali Surabaya. Berbagai sanksi juga diberikan.

Indra mencontohkan, pabrik gula Gempol Krep, yang pada 26 Mei 2012 silam diketahui membuang limbahnya ke Sungai Surabaya, sudah langsung diberi sanksi penghentian produksi serta dalam proses pemberian sanksi hukum.

Direktur lembaga konservasi lahan basah atau Ecological Observation Wesland Conservation (Ecoton) Surabaya, Prigi Arisandi, mengatakan Kali Surabaya saat ini tak ubahnya sebagai WC umum raksasa. “Sebanyak 75,5 ton limbah domestik, yang di dalamnya juga ada tinja, menggelontor tiap hari ke Kali Surabaya,” ucapnya.

Limbah domestik diperparah oleh 582 WC terapung di kawasan Sidoarjo dan 700 WC terapung di kawasan Surabaya.

 

Sumber Tempo Posting by lsmlidik Copyright@2012

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.